kecantika fisik

kecantika fisik

Rabu, 11 April 2012

Self-Learning


Pembelajaran diri(Self-Learning) terdiri atas dua kata, yakni pembelajaran dan diri. Tidak pernah ada kesuksesan tanpa pembelajaran.Tidak pernah ada pembelajaran jika tidak ada tujuan yang ingin dicapai.Belajar untuk menerima perubahan, tantangan, dan peluang.Belajar untuk selalu ingin tahu untuk peningkatan pengetahuan.Belajar untuk bersedia berubah dan berkembang. Veithzal Rivai dan Dedy Mulyadi[1] mendefinisikan pembelajaran sebagai perubahan yang relatif permanen dari perilaku yang terjadi sebagai hasil pengalaman. Pembelajaran disini berarti adanya suatu perubahan, jika tidak ada perubahan berarti belum ada pembelajaran.
Pada konteks manajemen, perubahan tersebut bisa jadi perubahan negatif maupun perubahan positif. Orang-orang dapat belajar perilaku-perilaku yang baik, tetapi dapat pula belajar perilaku-perilaku yang tidak baik. Selain itu dalam konteks pembelajaran adalah sifat pembelajaran tersebut dalam kaitannya dengan perubahan,dapat menjadi perubahan yang permanen atau tetap, tetapi dapat pula perubahan yang tidak tetap[2]. Dari ungkapan pembelajaran tersebut, maka kita dapat tarik suatu pengertian tentang pembelajaran berikut.
1.    Pembelajaran terkait dengan perubahan-perubahan perilaku baik pada individu maupun kelompok,
2.    Perubahan  dalam pembelajaran terjadi dalam dua arah, yakni positif (baik), maupun negatif (buruk),
3.    Perubahan dapat bersifat tetap (permanen), juga tidak tetap (non permanen).
Richard L. Daft[3], seorang pakar manajemen, menyatakan bahwa pembelajaran (learning) adalah perubahan yang terjadi di dalam perilaku atau kinerja yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Adapun proses dalam pembelajaran pengalaman merupakan suatu siklus, yang terdiri dari empat langkah. Langkah pertama adalah pengalaman nyata yang biasanya diperhadapkan pada individu. Peristiwa ini diikuti oleh pemikiran dan pengamatan reflektif, yang menghasilkan konseptualisasi abstrak, dan pada akhirnya, pada eksprimen aktif. Hasil eksperimen ini menghasilkan pengalaman baru, dan siklus inipun berulang .
Apabila hal tersebut dikaitkan  dalam psikologi pendidikan, maka pandangan ini terkait pada pandangan kognitivisme tentang belajar[4]. Kognitivisme meyakini, bahwa belajar adalah hasil dari individu yang memaknai pengalaman-pengalaman yang ada pada lingkungan sekitarnya. Teori belajar kognitivisme tersebut juga menekankan, bahwa dalam pembelajaran tersebut yang utama adalah terletak dari dalam individu itu. Seperti apa yang diungkap kembali tentang teori belajar tersebut oleh Martini Jamaris (2011)[5], bahwa belajar adalah proses yang melibatkanindividu secara aktif. Kemampuan yang dimiliki oleh individu sepenuhnya digunakan secara optimal untuk pengembangan dirinya, mulai dari cara berpikir, harapan-harapan yang dirasakan, akan mempengaruhi cara individu tersebut belajar. Dengan dasar teori belajar kognitivisme tersebut sebagai salah satu dasar untuk dapat memahami konsep pembelajaran diri (self-learning).
Demikian pula halnya bila pembelajaran ini bila kita tinjau  dengan pendekatan psikologi berbasis konstruktivisme. Dalam Marini Jamaris[6] yang mengutip Barlett (1932), dan Jonasson (1991), menyatakan, bahwa konstruktivisme menekankan pada pembelajaran diri  melalui apa yang dialami anak didik terhadap dunia sekitarnya. Pendekatan pada pembelajaran inipun dapat diaplikasikan pada orang dewasa. Pendekatan konstruktivisme dikembangkan berdasarkan  paham behaviorisme yang memandang manusia berada dalam kotak hitam atau black box dan kognitivisme yang memandang pikiran manusia merupakan hal yang penting dalam memahami dan memaknai sesuatu yang dihadapinya.[7]


[1]Veithzal Rivai dan Dedy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta, Rajawali Pers), p. 235
[2]Ibid
[3]Richard L.Daft, Era Baru Manajemen Buku 1.Terjemahan,(Jakarta, Salemba Empat, 2011), p.107
[4]Martini Jamaris, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pendidikan, (Jakarta, Yayasan Penamas Murni, 2010), p. 173
[5]Ibid
[6]Ibid
[7]Ibid,  207